Langsung ke konten utama

I'm Done

First time I didn't notice you.

All my love stories start with that sentence. Most of them have a sad to super sad ending. I like someone I barely notice when we first met, deeply falling for them, turns out they never have a feeling like I did. I trapped in unrequited love situation, ended up broken hearted.

With you, the story have a little bit...an unusual path.

You, seems interested to me. I told everyone you will never have a chance, because, simply I thought that you're not my type, so, in the first time, I didn't notice you.

Time passed by. You try to convince me.

And you did. After 10 months of constant works, we started to growing closer.

You like me, I know you do. But, as we take step into the next level, it seems like the love we have didn't own a stable root. We start to fight over small things. Everytime you're in a bad mood, I start questioning why and we ended up ruining our day.

"No, it's not you." You said last night, when I asked you why.

"And?"

"I'm sorry. I'm okay."

"Not your expression. You can't lie to me."

"Don't worry."

You ensure me that everything would be alright, That we always become a lover like this.

But maybe, maybe we're gonna end up grow apart. Usually, I'm gonna hold the shatter together, trying to save them, save our relationship. But now, if you want to go, I guess I'll just hold the door.

I won't get in the way.

First time I didn't notice you, but you sneak up to my soul, and I become addicted to you. 

I hope, when you start to think that we won't make it, you can go unnoticed like the way you came. 

I should protect myself.

I love you, but I'm done chasing you.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ada yang perlu aku sampaikan...

       Sayang, Waktu kamu tanya kenapa aku nggak pernah bilang sayang, aku kesel. Aku kesel karena, selama setahun lebih kita kenal ini, kamu nggak pernah mau denger apa yang aku bilang soal menjalin hubungan. Waktu pertama kita ketemu, kita masih sama-sama luka. Kamu baru habis nggak jadi nikah. Aku belum beres masalah sama orang.  Kamu tahu kenapa aku keukeuh minta kamu  jangan mulai dulu kalau perkara yang lama belum selesai ? Karena kalau dari pertama aku sudah bilang aku sayang, semuanya akan sangat, sangat, sangat berantakan dan menimbulkan luka baru . --------------------------- Sayang, Selama kita bareng setahun lebih ini, kamu inget nggak berapa kali kamu pacaran? Berapa orang yang kamu deketin? Berapa banyak dari orang-orang itu yang kamu ceritain ke aku? "Oh si A seperti ini, aku suka. Si B seperti ini, aku suka, si C seperti ini aku suka. Jadi aku dekati mereka semua, aku menjadi flamboyan, karena yang aku cari terpencar di mereka semua." Tiap k...

The End of Our Story?

  "Sorry, I came too late." Tidak pernah ada kata terlambat buat gue. Pun dalam hubungan ini.  Banyak sekali pertimbangan ketika gue bilang kalau, gue tidak akan mengizinkan lo masuk ketika lo belum benar-benar sembuh dari luka yang lama.  You'll end up hurting me. Hurting yourself. Hurting us. " Aku ini apa buatmu?" Everything I could wish for. A whole package.  A home. But it would be difficult to share your home with somebody else.  "I always be the one who love  too much,  then  left alone ." " Maaf ." "Buat apa?" " Karena terlambat." All was game and fun, on and off, until in one point, both of us were trapped inside the... genuine feeling . " Jangan pergi... apa kita masih bisa temenan?" "Yeah, sure." Gue mengangguk, perih. "But I need time to heal. To recover." Then he starts to cry.  "Did I hurt you?" I'm completly silent I can't even handle the question. It hurts. So...

Dimensi Waktu

Rasanya, alam punya cara kerja sendiri yang tidak bisa kita rekayasa. Dalam kehidupan gue, keanehan dan kesulitan hidup selalu muncul dari perkara percintaan. Mari kita masuk ke dalam satu kisah gue yang teranyar. Tentang cerita naksir-naksiran yang berujung tidak indah. Tentang bagaimana, setelah belasan tahun, gue menemukan sesuatu yang persis seperti yang gue cari. Yang gue mau. Yang gue butuh.  Bagian terbaiknya: dia memberikan timbal balik dalam porsi setimbang dengan apa yang gue berikan.  Bagian terburuknya: kami tidak bisa bersama.  Gue memanggilnya Ling. Namanya terlalu panjang, ribet, susah, sampai pada akhirnya, gue memutuskan untuk mengambil sebagian kecil namanya sebagai sapaan. Kami bertemu dalam sebuah kegiatan, saat gue menjadi peserta dan dia panitianya.  Ling berperawakan tinggi besar dengan mata cokelat tajam yang selalu berbinar. Senyumnya selalu mengembang, bahkan ketika dia lelah atau pura-pura marah. Suaranya lembut, dalam k...