Langsung ke konten utama

Postingan

The End of Our Story?

  "Sorry, I came too late." Tidak pernah ada kata terlambat buat gue. Pun dalam hubungan ini.  Banyak sekali pertimbangan ketika gue bilang kalau, gue tidak akan mengizinkan lo masuk ketika lo belum benar-benar sembuh dari luka yang lama.  You'll end up hurting me. Hurting yourself. Hurting us. " Aku ini apa buatmu?" Everything I could wish for. A whole package.  A home. But it would be difficult to share your home with somebody else.  "I always be the one who love  too much,  then  left alone ." " Maaf ." "Buat apa?" " Karena terlambat." All was game and fun, on and off, until in one point, both of us were trapped inside the... genuine feeling . " Jangan pergi... apa kita masih bisa temenan?" "Yeah, sure." Gue mengangguk, perih. "But I need time to heal. To recover." Then he starts to cry.  "Did I hurt you?" I'm completly silent I can't even handle the question. It hurts. So...
Postingan terbaru

Ada yang perlu aku sampaikan...

       Sayang, Waktu kamu tanya kenapa aku nggak pernah bilang sayang, aku kesel. Aku kesel karena, selama setahun lebih kita kenal ini, kamu nggak pernah mau denger apa yang aku bilang soal menjalin hubungan. Waktu pertama kita ketemu, kita masih sama-sama luka. Kamu baru habis nggak jadi nikah. Aku belum beres masalah sama orang.  Kamu tahu kenapa aku keukeuh minta kamu  jangan mulai dulu kalau perkara yang lama belum selesai ? Karena kalau dari pertama aku sudah bilang aku sayang, semuanya akan sangat, sangat, sangat berantakan dan menimbulkan luka baru . --------------------------- Sayang, Selama kita bareng setahun lebih ini, kamu inget nggak berapa kali kamu pacaran? Berapa orang yang kamu deketin? Berapa banyak dari orang-orang itu yang kamu ceritain ke aku? "Oh si A seperti ini, aku suka. Si B seperti ini, aku suka, si C seperti ini aku suka. Jadi aku dekati mereka semua, aku menjadi flamboyan, karena yang aku cari terpencar di mereka semua." Tiap k...

Viral dan Alexandria

Setiap tahun selama beberapa belas ramadhan kebelakang, momen sahur rasanya tak lengkap kalau nggak sambil nonton sinetron Para Pencari Tuhan. Begitu juga tahun ini. Awalnya, gue cuma nonton aja kayak biasa, sampai kemudian, ada beberapa kelucuan yang menggelitik di jilid ini. Dikisahkan seorang lelaki bernama Viral patah hati ditinggal tunangannya. Setiap hari dia mampir ke rumah tunangannya, menaruh bunga dan ucapan-ucapan cinta lainnya, di pagar rumah kosong tersebut. Hingga suatu hari, perempuan cantik keluar dari dalamnya. Penghuni baru. Namanya Alexandria. Andria dan Viral kemudian menjalin pertemanan yang... unik. Saling flirting tanpa mau kelihatan saling naksir, padahak mah  keliatan banget. Memang betul, katanya kalo orang jatuh cinta, seisi dunia bisa lihat, kecuali mereka berdua. Rasanya tiap nonton gue gemes pengen neriakin mereka berdua yang kayak lagi main game adu kuat. Siapa yang jatuh cinta duluan, dia yang kalah. Gue sebel banget, kenapa bisa ada dua orang ...

Tak Terima

Dua raga T'lah lama bersama Seketika Retak berhamburan Hati kecilku masih tak terima Mungkin itu yang aku rasakan April tahun kemarin, dan berlanjut hingga tujuh bulan kemudian. Bersama, lalu terpisah tanpa alasan yang jelas. Ditanya maunya apa, tidak ada jawaban pasti. Diajak diskusi, malah membatasi diri. Repot sekali.  Tidak ada masalah jika sudah lelah. Tidak ada yang akan menekan jika memang sudah bosan. Yang penting, semuanya jelas.  Aku harus menahan bingung, sedih, dan marah dengan semua ketidakjelasan, selama tujuh bulan. Masih harus bersama atas dasar profesionalisme, menyingkirkan rasa seakan bukan manusia.  Kalau aku punya salah, bilang Tidak ada jawaban. Kalau kamu marah, bilang Masih tidak ada jawaban. Kalau kamu punya yang baru, bilang. Tidak pernah ada jawaban. Tidak mudah berpindah, karena, setelah sekian lama memaksa diri untuk apa-apa sendiri, ada yang datang dan memberikan semua kenyamanan, semua kem...

Sebuah Pesan Singkat

"SELAMAT HARI MINGGUUUUU" Sebaris  chat  masuk ke  handphone  gue, ditambah dengan emoji ketawa sok manis, di sabtu pagi yang cerah. "Apaan, ini masih sabtu, Mas ." Gue protes. " Apa bedanya toh? Sama aja kan? " Di sela-sela santai pagi dan keterbatasan gerak akibat cedera punggung, gue berusaha menahan rasa tak karuan dalam hati. Senang, iya, marah, iya, bersalah, iya. Campur aduk jadi satu. Terakhir kali ia mengontak, sebulan yang lalu, saat gue sedang ada kerjaan di luar kota. Dia memang bilang saat gue kembali ke Bandung nanti, dia akan  mengganggu  lagi, karena ada keperluan. Lama tak ada kabarnya, gue pikir semuanya selesai. Ada kelegaan tidak harus berurusan dengan orang yang sebaiknya tidak dikontak, walaupun gue  sangat ingin . Makanya, ketika tiba-tiba muncul namanya di HP, rasanya kepengen pingsan. Setelah obrolan nggak jelas tentang hari sabtu dan hari minggu,  chat  kami berhenti. Nggak jelas banget maunya apa. Cuma...

Dimensi Waktu

Rasanya, alam punya cara kerja sendiri yang tidak bisa kita rekayasa. Dalam kehidupan gue, keanehan dan kesulitan hidup selalu muncul dari perkara percintaan. Mari kita masuk ke dalam satu kisah gue yang teranyar. Tentang cerita naksir-naksiran yang berujung tidak indah. Tentang bagaimana, setelah belasan tahun, gue menemukan sesuatu yang persis seperti yang gue cari. Yang gue mau. Yang gue butuh.  Bagian terbaiknya: dia memberikan timbal balik dalam porsi setimbang dengan apa yang gue berikan.  Bagian terburuknya: kami tidak bisa bersama.  Gue memanggilnya Ling. Namanya terlalu panjang, ribet, susah, sampai pada akhirnya, gue memutuskan untuk mengambil sebagian kecil namanya sebagai sapaan. Kami bertemu dalam sebuah kegiatan, saat gue menjadi peserta dan dia panitianya.  Ling berperawakan tinggi besar dengan mata cokelat tajam yang selalu berbinar. Senyumnya selalu mengembang, bahkan ketika dia lelah atau pura-pura marah. Suaranya lembut, dalam k...

Percaya

Setelah menutup cerita dengan yang sebelumnya, sejujurnya aku memilih buat menenangkan diri dulu. Lalu tiba-tiba, Tuhan mengirimkan orang baru. Kami masih sama-sama takut untuk memulai. Masih sama-sama khawatir karena luka yang lalu belum sembuh betul. Kami menyerahkan semuanya kepada waktu. Kami sama-sama dipertemukan dalam kondisi yang tidak baik; dengan luka menganga lebar. Dengan air mata yang belum kering betul. Dengan sisa serpihan kepercayaan yang dikumpulkan, direkatkan membentuk wujud tak karuan. Berhati-hati kami berbagi. Belum-belum, sudah saling menyakiti. Tapi kami paham, ketidaktahuan membuat kesalahpahaman. Maka, kami berusaha untuk belajar saling berkompromi. Aku paham, jalan dan waktu Tuhan tidak pernah salah. Aku hanya perlu memahami bahwa lapang dada adalah kunci dari segalanya. Lanjut ataupun tidak, aku yakin, Tuhan dengan cinta kasihnya yang tak terbatas berusaha memberikan pemahaman padaku. Bahwa bagi-Nya, datang dan pergi adalah sebuah ur...