Langsung ke konten utama

Dimensi Waktu

Rasanya, alam punya cara kerja sendiri yang tidak bisa kita rekayasa. Dalam kehidupan gue, keanehan dan kesulitan hidup selalu muncul dari perkara percintaan.

Mari kita masuk ke dalam satu kisah gue yang teranyar. Tentang cerita naksir-naksiran yang berujung tidak indah. Tentang bagaimana, setelah belasan tahun, gue menemukan sesuatu yang persis seperti yang gue cari. Yang gue mau. Yang gue butuh. 

Bagian terbaiknya: dia memberikan timbal balik dalam porsi setimbang dengan apa yang gue berikan. 

Bagian terburuknya: kami tidak bisa bersama. 

Gue memanggilnya Ling. Namanya terlalu panjang, ribet, susah, sampai pada akhirnya, gue memutuskan untuk mengambil sebagian kecil namanya sebagai sapaan. Kami bertemu dalam sebuah kegiatan, saat gue menjadi peserta dan dia panitianya. 

Ling berperawakan tinggi besar dengan mata cokelat tajam yang selalu berbinar. Senyumnya selalu mengembang, bahkan ketika dia lelah atau pura-pura marah. Suaranya lembut, dalam keadaan panik sekalipun. Kerecehannya level tak hingga, patut diacungi jempol. Tidak membosankan. Menyebalkan, sekaligus menggemaskan. Dia memperkenalkan diri sebagai panitia, berusia 30-an akhir.

Tidak ada yang aneh sampai dia memecah keheningan dengan,

"Kalo malem, di depan situ ada tempat makan pecel enak, lho. Kamu mau nemenin aku makan?"

Entah kenapa, gue langsung deg begitu dia ngomong gitu. Ada satu bagian dari diri gue yang menolak sinyal yang dia lemparkan. Tapi di sisi lain, gelagatnya terlalu frontal untuk ditampik.

Kami melewatkan beberapa hari berinteraksi intens dan menahan diri untuk saling bercanda, walaupun tetap saja rasanya selalu ingin bersama. Seorang teman mengeluh dia merasa "diusir" oleh Ling tiap kali gue dan teman tersebut bersama. 

Di hari terakhir kami bertemu, kami saling menatap tanpa bisa mengucapkan selamat tinggal dengan baik dan tuntas. Kami sempat berkirim pesan singkat, dengan banyak hal yang rasanya tertahan. Rasanya terlalu singkat. Terlalu salah. Terlalu berantakan. Kenapa kami harus bertemu sekarang, selalu hal itu yang menggema di dalam kepala gue. 

Lalu, dia berkata,

"Percaya aja, segala sesuatu itu selalu tepat waktu"

Ya, mungkin memang benar begitu adanya. Hidup selalu berjalan dengan ritme yang seharusnya. Gue saja yang mungkin nggak ngeh. 

Tapi saat itu, gue merasa sangat sedih dengan ritme kehidupan.


Ditulis di rumah, sambil ngecat rambut dan buka-buka medsos-nya beliau. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebuah Pesan Singkat

"SELAMAT HARI MINGGUUUUU" Sebaris  chat  masuk ke  handphone  gue, ditambah dengan emoji ketawa sok manis, di sabtu pagi yang cerah. "Apaan, ini masih sabtu, Mas ." Gue protes. " Apa bedanya toh? Sama aja kan? " Di sela-sela santai pagi dan keterbatasan gerak akibat cedera punggung, gue berusaha menahan rasa tak karuan dalam hati. Senang, iya, marah, iya, bersalah, iya. Campur aduk jadi satu. Terakhir kali ia mengontak, sebulan yang lalu, saat gue sedang ada kerjaan di luar kota. Dia memang bilang saat gue kembali ke Bandung nanti, dia akan  mengganggu  lagi, karena ada keperluan. Lama tak ada kabarnya, gue pikir semuanya selesai. Ada kelegaan tidak harus berurusan dengan orang yang sebaiknya tidak dikontak, walaupun gue  sangat ingin . Makanya, ketika tiba-tiba muncul namanya di HP, rasanya kepengen pingsan. Setelah obrolan nggak jelas tentang hari sabtu dan hari minggu,  chat  kami berhenti. Nggak jelas banget maunya apa. Cuma...

The End of Our Story?

  "Sorry, I came too late." Tidak pernah ada kata terlambat buat gue. Pun dalam hubungan ini.  Banyak sekali pertimbangan ketika gue bilang kalau, gue tidak akan mengizinkan lo masuk ketika lo belum benar-benar sembuh dari luka yang lama.  You'll end up hurting me. Hurting yourself. Hurting us. " Aku ini apa buatmu?" Everything I could wish for. A whole package.  A home. But it would be difficult to share your home with somebody else.  "I always be the one who love  too much,  then  left alone ." " Maaf ." "Buat apa?" " Karena terlambat." All was game and fun, on and off, until in one point, both of us were trapped inside the... genuine feeling . " Jangan pergi... apa kita masih bisa temenan?" "Yeah, sure." Gue mengangguk, perih. "But I need time to heal. To recover." Then he starts to cry.  "Did I hurt you?" I'm completly silent I can't even handle the question. It hurts. So...