Setelah menutup cerita dengan yang sebelumnya, sejujurnya aku memilih buat menenangkan diri dulu. Lalu tiba-tiba, Tuhan mengirimkan orang baru. Kami masih sama-sama takut untuk memulai. Masih sama-sama khawatir karena luka yang lalu belum sembuh betul. Kami menyerahkan semuanya kepada waktu. Kami sama-sama dipertemukan dalam kondisi yang tidak baik; dengan luka menganga lebar. Dengan air mata yang belum kering betul. Dengan sisa serpihan kepercayaan yang dikumpulkan, direkatkan membentuk wujud tak karuan. Berhati-hati kami berbagi. Belum-belum, sudah saling menyakiti. Tapi kami paham, ketidaktahuan membuat kesalahpahaman. Maka, kami berusaha untuk belajar saling berkompromi. Aku paham, jalan dan waktu Tuhan tidak pernah salah. Aku hanya perlu memahami bahwa lapang dada adalah kunci dari segalanya. Lanjut ataupun tidak, aku yakin, Tuhan dengan cinta kasihnya yang tak terbatas berusaha memberikan pemahaman padaku. Bahwa bagi-Nya, datang dan pergi adalah sebuah ur...