Langsung ke konten utama

Tak Terima

Dua raga
T'lah lama bersama
Seketika
Retak berhamburan
Hati kecilku masih tak terima

Mungkin itu yang aku rasakan April tahun kemarin, dan berlanjut hingga tujuh bulan kemudian. Bersama, lalu terpisah tanpa alasan yang jelas. Ditanya maunya apa, tidak ada jawaban pasti. Diajak diskusi, malah membatasi diri. Repot sekali. 

Tidak ada masalah jika sudah lelah. Tidak ada yang akan menekan jika memang sudah bosan. Yang penting, semuanya jelas. 

Aku harus menahan bingung, sedih, dan marah dengan semua ketidakjelasan, selama tujuh bulan. Masih harus bersama atas dasar profesionalisme, menyingkirkan rasa seakan bukan manusia. 

Kalau aku punya salah, bilang

Tidak ada jawaban.

Kalau kamu marah, bilang

Masih tidak ada jawaban.

Kalau kamu punya yang baru, bilang.

Tidak pernah ada jawaban.

Tidak mudah berpindah, karena, setelah sekian lama memaksa diri untuk apa-apa sendiri, ada yang datang dan memberikan semua kenyamanan, semua kemudahan, semua kasih sayang. 

Awalnya sulit, dan masih tak terima. Tapi makin lama, memaksakan diri untuk paham kalau, di dunia ini, tidak semua hal selalu berjalan sesuai apa yang kita rencanakan. 

Mungkin hubungan yang rapi dan selewat ini cuma akan jadi kenangan, sebagai pengingat untuk masa depan, supaya tidak gegabah memulai dan mengakhiri.

Semoga kamu bahagia di tempat baru nanti, ya.

Kutanggalkan Semua cerita  Jangan kau genggam sisa  Biarkan aku bahagia

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dimensi Waktu

Rasanya, alam punya cara kerja sendiri yang tidak bisa kita rekayasa. Dalam kehidupan gue, keanehan dan kesulitan hidup selalu muncul dari perkara percintaan. Mari kita masuk ke dalam satu kisah gue yang teranyar. Tentang cerita naksir-naksiran yang berujung tidak indah. Tentang bagaimana, setelah belasan tahun, gue menemukan sesuatu yang persis seperti yang gue cari. Yang gue mau. Yang gue butuh.  Bagian terbaiknya: dia memberikan timbal balik dalam porsi setimbang dengan apa yang gue berikan.  Bagian terburuknya: kami tidak bisa bersama.  Gue memanggilnya Ling. Namanya terlalu panjang, ribet, susah, sampai pada akhirnya, gue memutuskan untuk mengambil sebagian kecil namanya sebagai sapaan. Kami bertemu dalam sebuah kegiatan, saat gue menjadi peserta dan dia panitianya.  Ling berperawakan tinggi besar dengan mata cokelat tajam yang selalu berbinar. Senyumnya selalu mengembang, bahkan ketika dia lelah atau pura-pura marah. Suaranya lembut, dalam k...

Sebuah Pesan Singkat

"SELAMAT HARI MINGGUUUUU" Sebaris  chat  masuk ke  handphone  gue, ditambah dengan emoji ketawa sok manis, di sabtu pagi yang cerah. "Apaan, ini masih sabtu, Mas ." Gue protes. " Apa bedanya toh? Sama aja kan? " Di sela-sela santai pagi dan keterbatasan gerak akibat cedera punggung, gue berusaha menahan rasa tak karuan dalam hati. Senang, iya, marah, iya, bersalah, iya. Campur aduk jadi satu. Terakhir kali ia mengontak, sebulan yang lalu, saat gue sedang ada kerjaan di luar kota. Dia memang bilang saat gue kembali ke Bandung nanti, dia akan  mengganggu  lagi, karena ada keperluan. Lama tak ada kabarnya, gue pikir semuanya selesai. Ada kelegaan tidak harus berurusan dengan orang yang sebaiknya tidak dikontak, walaupun gue  sangat ingin . Makanya, ketika tiba-tiba muncul namanya di HP, rasanya kepengen pingsan. Setelah obrolan nggak jelas tentang hari sabtu dan hari minggu,  chat  kami berhenti. Nggak jelas banget maunya apa. Cuma...

The End of Our Story?

  "Sorry, I came too late." Tidak pernah ada kata terlambat buat gue. Pun dalam hubungan ini.  Banyak sekali pertimbangan ketika gue bilang kalau, gue tidak akan mengizinkan lo masuk ketika lo belum benar-benar sembuh dari luka yang lama.  You'll end up hurting me. Hurting yourself. Hurting us. " Aku ini apa buatmu?" Everything I could wish for. A whole package.  A home. But it would be difficult to share your home with somebody else.  "I always be the one who love  too much,  then  left alone ." " Maaf ." "Buat apa?" " Karena terlambat." All was game and fun, on and off, until in one point, both of us were trapped inside the... genuine feeling . " Jangan pergi... apa kita masih bisa temenan?" "Yeah, sure." Gue mengangguk, perih. "But I need time to heal. To recover." Then he starts to cry.  "Did I hurt you?" I'm completly silent I can't even handle the question. It hurts. So...