Langsung ke konten utama

Ada yang perlu aku sampaikan...

     Sayang,

Waktu kamu tanya kenapa aku nggak pernah bilang sayang, aku kesel.

Aku kesel karena, selama setahun lebih kita kenal ini, kamu nggak pernah mau denger apa yang aku bilang soal menjalin hubungan.

Waktu pertama kita ketemu, kita masih sama-sama luka. Kamu baru habis nggak jadi nikah. Aku belum beres masalah sama orang. 

Kamu tahu kenapa aku keukeuh minta kamu jangan mulai dulu kalau perkara yang lama belum selesai?

Karena kalau dari pertama aku sudah bilang aku sayang, semuanya akan sangat, sangat, sangat berantakan dan menimbulkan luka baru.

---------------------------

Sayang,

Selama kita bareng setahun lebih ini, kamu inget nggak berapa kali kamu pacaran?

Berapa orang yang kamu deketin?

Berapa banyak dari orang-orang itu yang kamu ceritain ke aku?

"Oh si A seperti ini, aku suka. Si B seperti ini, aku suka, si C seperti ini aku suka. Jadi aku dekati mereka semua, aku menjadi flamboyan, karena yang aku cari terpencar di mereka semua."

Tiap kali kamu bercanda soal sayangmu ke aku dan aku tantangin balik, kamu selalu menarik lagi becandaanmu.

Kalau begitu keadaannya, apakah aku salah, kalau aku nggak pernah bisa percaya, tiap kali kamu bilang kamu sayang sama aku?

Seperti apa kamu melihatku?

Sebagai apa kamu menganggapku?

Sebesar apa sayangmu buatku?

Apakah aku sangat ngga bernilai, sampai akhirnya jadi pilihan kedua, ketiga, terakhir? Jadi cadangan, padahal aku ada di sini, nggak pernah kemana-mana?

Bahkan ketika ada yang sayang sama aku dan dihadapkan pada pilihan, bukan aku yang akan dipilih?

Apakah aku segitu sangat nggak berharga?

---------------------------

Sayang,

Aku senang mengamati orang untuk tahu seperti apa orang ingin diperlakukan. Mungkin saat orang pertama bertemu aku, mereka punya sosok yang mereka mau. Aku, mungkin tidak termasuk dalam kriteria itu. Tidak mencolok. Tidak cantik. Pinter apalagi. Kaya juga engga.

Tapi setelah sekian lama kenal, orang-orang akan paham kalau, apa yang mereka butuhkan, ada di aku. Makanya, akan butuh waktu buat orang-orang sayang sama aku. Dan di satu waktu mereka akan sadar, kalo aku adalah orang yang paling mereka butuhkan.

Apakah kamu juga begitu? Apa kamu juga baru sadar itu?

I was there, observe, from the very beginning.

Right from the start, I know that you are all I need. The whole packages.

A home.

I know it will take ages to build a strong relationship. And I'll try my best not to rush because it will ruin everything.

Mungkin aku terlalu berhati-hati, tapi di satu sisi aku juga gegabah.

And I ruin it.

It's my mistake, to let you in. Sorry, I'm so selfish.

---------------------------

Sayang,

Aku tidak pernah masalah dengan apapun pilihanmu. Yang penting, pikirkan baik-baik, kamu mau pilih apa dalam hidupmu. Pakai intuisimu, pakai logikamu, pakai semuanya. Apapun yang kamu pilih, kamu harus pahami pilihanmu beserta konsekuensinya.

Aku tidak tau siapa yang kamu pilih, but even if you don't choose me, I will still be here as your friend. Something will change, ofcourse, but, I still be your friend. Sorry if I ruin our friendship. I'm so sorry because I'm so broken I start to break every single soul around me.

Tapi terima kasih. Terima kasih banyak, karena kamu baik sekali, dan aku merasa sangat disayangi. Aku selalu mendoakan yang terbaik buatmu.

Jaga diri baik-baik, ya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dimensi Waktu

Rasanya, alam punya cara kerja sendiri yang tidak bisa kita rekayasa. Dalam kehidupan gue, keanehan dan kesulitan hidup selalu muncul dari perkara percintaan. Mari kita masuk ke dalam satu kisah gue yang teranyar. Tentang cerita naksir-naksiran yang berujung tidak indah. Tentang bagaimana, setelah belasan tahun, gue menemukan sesuatu yang persis seperti yang gue cari. Yang gue mau. Yang gue butuh.  Bagian terbaiknya: dia memberikan timbal balik dalam porsi setimbang dengan apa yang gue berikan.  Bagian terburuknya: kami tidak bisa bersama.  Gue memanggilnya Ling. Namanya terlalu panjang, ribet, susah, sampai pada akhirnya, gue memutuskan untuk mengambil sebagian kecil namanya sebagai sapaan. Kami bertemu dalam sebuah kegiatan, saat gue menjadi peserta dan dia panitianya.  Ling berperawakan tinggi besar dengan mata cokelat tajam yang selalu berbinar. Senyumnya selalu mengembang, bahkan ketika dia lelah atau pura-pura marah. Suaranya lembut, dalam k...

Sebuah Pesan Singkat

"SELAMAT HARI MINGGUUUUU" Sebaris  chat  masuk ke  handphone  gue, ditambah dengan emoji ketawa sok manis, di sabtu pagi yang cerah. "Apaan, ini masih sabtu, Mas ." Gue protes. " Apa bedanya toh? Sama aja kan? " Di sela-sela santai pagi dan keterbatasan gerak akibat cedera punggung, gue berusaha menahan rasa tak karuan dalam hati. Senang, iya, marah, iya, bersalah, iya. Campur aduk jadi satu. Terakhir kali ia mengontak, sebulan yang lalu, saat gue sedang ada kerjaan di luar kota. Dia memang bilang saat gue kembali ke Bandung nanti, dia akan  mengganggu  lagi, karena ada keperluan. Lama tak ada kabarnya, gue pikir semuanya selesai. Ada kelegaan tidak harus berurusan dengan orang yang sebaiknya tidak dikontak, walaupun gue  sangat ingin . Makanya, ketika tiba-tiba muncul namanya di HP, rasanya kepengen pingsan. Setelah obrolan nggak jelas tentang hari sabtu dan hari minggu,  chat  kami berhenti. Nggak jelas banget maunya apa. Cuma...

The End of Our Story?

  "Sorry, I came too late." Tidak pernah ada kata terlambat buat gue. Pun dalam hubungan ini.  Banyak sekali pertimbangan ketika gue bilang kalau, gue tidak akan mengizinkan lo masuk ketika lo belum benar-benar sembuh dari luka yang lama.  You'll end up hurting me. Hurting yourself. Hurting us. " Aku ini apa buatmu?" Everything I could wish for. A whole package.  A home. But it would be difficult to share your home with somebody else.  "I always be the one who love  too much,  then  left alone ." " Maaf ." "Buat apa?" " Karena terlambat." All was game and fun, on and off, until in one point, both of us were trapped inside the... genuine feeling . " Jangan pergi... apa kita masih bisa temenan?" "Yeah, sure." Gue mengangguk, perih. "But I need time to heal. To recover." Then he starts to cry.  "Did I hurt you?" I'm completly silent I can't even handle the question. It hurts. So...