Langsung ke konten utama

Full Boyle


Dalam series Brooklyn Nine-Nine, Charles Boyle diceritakan sebagai cowok baik hati yang setia kawan dan setia pada pasangannya. Kalau dia naksir cewek, dia pasti akan all out, atau disebut sebagai Full Boyle. Menurut definisi dari Urban Dictionary, kira-kira Full Boyle itu seperti ini:

full boyle 
Going full out on a girl that you really like, so much that you scare her awayDude, I just went full Boyle on this girl and now she thinks I'm a weirdo
Seperti halnya Boyle, saya juga sering melakukan hal yang sama. Nggak bisa ngerem, sampai akhirnya blong. Sebenernya saya emang tipe orang yang suka menunjukkan kasih sayang. Tapi mungkin, buat beberapa orang, apalagi yang belum resmi jadi siapa-siapa, hal tersebut agak menakutkan, juga, membosankan.
Akhir-akhir ini, setelah mengalami kisah cinta yang kandas secara tragis, saya mencoba untuk memnbenahi diri, dan mulai masuk ke tahap membuka hati. Awal-awal saya masih santai dan cuek. Lama-lama, saya mulai terbawa suasana dan nyaris melakukan full boyle. 
Sebagai ekspertis dalam bidang percintaan, Bapak Sanusi, bukan nama sebenarnya, dan Ibu Hemeh, juga bukan nama sebenarnya, menginterogasi saya soal cinta-cintaan anak remaja yang sedang saya alami. Mereka, dengan sabar dan tawakal berusaha menggali setiap partikel, nanometer demi nanometer cerita yang saya simpen rapat-rapat, simply because it sounds ridiculous, and, let's say, it's embarrassing.

"Kenapa sih aku diinterogasi gini? Kan oe udah kata, detailnya hanya oe, dia, dan Tuhan yang tahu."

"Karena," Bapak Sanusi, sebagai Bapak-Bapak tua yang (sok) bijak memandang saya, yang dalam hal ini sepertinya ada di posisi anak "Kalau nanti kamu patah hati, kami tahu cara yang baik untuk menyembuhkannya."

Saya mengangguk.

"Sekarang, pilihannya cuma, kamu mau go heart, atau go home. Pilih mana?"

Once upon a time I had a really complicated relationship that forced me to choose between who I really want and who's really matter. But, this time, this relationship is the next level of complicated. It's scary, because I know we like each other but only God knows on what level. It's full with happiness, because after all this time, finally I've got someone whose vision, pace, and standard match with me. It's... secret, because... apparently we are under the uncomfortable circumstances to start a romantic relationship. 

It's... so good that I'm afraid it won't last long. 

"Gimana?"

Saya tahu di level mana kenyamanannya terbentuk, tapi saya masih khawatir.

Sampai di satu titik, di suatu hari, saya tahu, kalau tidak ada salahnya mencoba.

Maka saya go heart, alias full boyle. Saya mencemplungkan diri saya, sambil berkata dalam hati, bahwa, saya tahu ini gambling, tapi, saya sadar penuh konsekuensinya. Jika pada suatu saat nanti kami tidak lanjut, saya tahu, itu yang terbaik, dan saya tahu, saya disayang.

Because, after one night that I still kept as a secret, I know, he's already going full boyle on me.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ada yang perlu aku sampaikan...

       Sayang, Waktu kamu tanya kenapa aku nggak pernah bilang sayang, aku kesel. Aku kesel karena, selama setahun lebih kita kenal ini, kamu nggak pernah mau denger apa yang aku bilang soal menjalin hubungan. Waktu pertama kita ketemu, kita masih sama-sama luka. Kamu baru habis nggak jadi nikah. Aku belum beres masalah sama orang.  Kamu tahu kenapa aku keukeuh minta kamu  jangan mulai dulu kalau perkara yang lama belum selesai ? Karena kalau dari pertama aku sudah bilang aku sayang, semuanya akan sangat, sangat, sangat berantakan dan menimbulkan luka baru . --------------------------- Sayang, Selama kita bareng setahun lebih ini, kamu inget nggak berapa kali kamu pacaran? Berapa orang yang kamu deketin? Berapa banyak dari orang-orang itu yang kamu ceritain ke aku? "Oh si A seperti ini, aku suka. Si B seperti ini, aku suka, si C seperti ini aku suka. Jadi aku dekati mereka semua, aku menjadi flamboyan, karena yang aku cari terpencar di mereka semua." Tiap k...

The End of Our Story?

  "Sorry, I came too late." Tidak pernah ada kata terlambat buat gue. Pun dalam hubungan ini.  Banyak sekali pertimbangan ketika gue bilang kalau, gue tidak akan mengizinkan lo masuk ketika lo belum benar-benar sembuh dari luka yang lama.  You'll end up hurting me. Hurting yourself. Hurting us. " Aku ini apa buatmu?" Everything I could wish for. A whole package.  A home. But it would be difficult to share your home with somebody else.  "I always be the one who love  too much,  then  left alone ." " Maaf ." "Buat apa?" " Karena terlambat." All was game and fun, on and off, until in one point, both of us were trapped inside the... genuine feeling . " Jangan pergi... apa kita masih bisa temenan?" "Yeah, sure." Gue mengangguk, perih. "But I need time to heal. To recover." Then he starts to cry.  "Did I hurt you?" I'm completly silent I can't even handle the question. It hurts. So...

Dimensi Waktu

Rasanya, alam punya cara kerja sendiri yang tidak bisa kita rekayasa. Dalam kehidupan gue, keanehan dan kesulitan hidup selalu muncul dari perkara percintaan. Mari kita masuk ke dalam satu kisah gue yang teranyar. Tentang cerita naksir-naksiran yang berujung tidak indah. Tentang bagaimana, setelah belasan tahun, gue menemukan sesuatu yang persis seperti yang gue cari. Yang gue mau. Yang gue butuh.  Bagian terbaiknya: dia memberikan timbal balik dalam porsi setimbang dengan apa yang gue berikan.  Bagian terburuknya: kami tidak bisa bersama.  Gue memanggilnya Ling. Namanya terlalu panjang, ribet, susah, sampai pada akhirnya, gue memutuskan untuk mengambil sebagian kecil namanya sebagai sapaan. Kami bertemu dalam sebuah kegiatan, saat gue menjadi peserta dan dia panitianya.  Ling berperawakan tinggi besar dengan mata cokelat tajam yang selalu berbinar. Senyumnya selalu mengembang, bahkan ketika dia lelah atau pura-pura marah. Suaranya lembut, dalam k...