Langsung ke konten utama

Kangen

Ketika orang yang kau sayang bersedih, lalu kau mencoba menghibur dan gagal, rasanya seperti dilempar ke jurang, kemudian diangkat, dilempar kembali, begitu terus, berulang-ulang, hingga kau hancur lebur.


Ya, aku merasakan hal itu tadi malam. Tak ada yang bisa kulakukan ketika dia bersedih. Kami dipisahkan jarak, dan aku tidak bisa melihat wajahnya langsung, tidak bisa menghiburnya, tidak bisa memeluknya.


Sini temenin aku. Ke Jakarta sini.


Jauh. Kamu aja pulang ke Bandung dulu.


Masih pengen di Jakarta... Gimana ya? Kamu ke sini dong.


Lalu ia merajuk seperti anak kecil, seperti biasa, mau terus ditemani. Kami terus ngobrol, dan aku masih terus berusaha menghiburnya. Sepertinya tidak mempan. Mungkin hanya pertemuan yang dapat membuatnya ceria lagi. Semua kata-kataku hanya membuatnya tambah bersedih.


Kamu bikin aku jadi kesel.


Jadi aku harus gimana?


Aku mau dipeluk.


Kalau kamu di Bandung, di sebelah aku, udah dari tadi aku peluk.


Pokoknya nanti Bandung aku mau dipeluk.


Rasanya saat itu juga, detik itu juga, aku ingin berlari ke Jakarta dan memeluknya. Mungkin aku akan menangis, tapi aku tak peduli.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ada yang perlu aku sampaikan...

       Sayang, Waktu kamu tanya kenapa aku nggak pernah bilang sayang, aku kesel. Aku kesel karena, selama setahun lebih kita kenal ini, kamu nggak pernah mau denger apa yang aku bilang soal menjalin hubungan. Waktu pertama kita ketemu, kita masih sama-sama luka. Kamu baru habis nggak jadi nikah. Aku belum beres masalah sama orang.  Kamu tahu kenapa aku keukeuh minta kamu  jangan mulai dulu kalau perkara yang lama belum selesai ? Karena kalau dari pertama aku sudah bilang aku sayang, semuanya akan sangat, sangat, sangat berantakan dan menimbulkan luka baru . --------------------------- Sayang, Selama kita bareng setahun lebih ini, kamu inget nggak berapa kali kamu pacaran? Berapa orang yang kamu deketin? Berapa banyak dari orang-orang itu yang kamu ceritain ke aku? "Oh si A seperti ini, aku suka. Si B seperti ini, aku suka, si C seperti ini aku suka. Jadi aku dekati mereka semua, aku menjadi flamboyan, karena yang aku cari terpencar di mereka semua." Tiap k...

The End of Our Story?

  "Sorry, I came too late." Tidak pernah ada kata terlambat buat gue. Pun dalam hubungan ini.  Banyak sekali pertimbangan ketika gue bilang kalau, gue tidak akan mengizinkan lo masuk ketika lo belum benar-benar sembuh dari luka yang lama.  You'll end up hurting me. Hurting yourself. Hurting us. " Aku ini apa buatmu?" Everything I could wish for. A whole package.  A home. But it would be difficult to share your home with somebody else.  "I always be the one who love  too much,  then  left alone ." " Maaf ." "Buat apa?" " Karena terlambat." All was game and fun, on and off, until in one point, both of us were trapped inside the... genuine feeling . " Jangan pergi... apa kita masih bisa temenan?" "Yeah, sure." Gue mengangguk, perih. "But I need time to heal. To recover." Then he starts to cry.  "Did I hurt you?" I'm completly silent I can't even handle the question. It hurts. So...

Dimensi Waktu

Rasanya, alam punya cara kerja sendiri yang tidak bisa kita rekayasa. Dalam kehidupan gue, keanehan dan kesulitan hidup selalu muncul dari perkara percintaan. Mari kita masuk ke dalam satu kisah gue yang teranyar. Tentang cerita naksir-naksiran yang berujung tidak indah. Tentang bagaimana, setelah belasan tahun, gue menemukan sesuatu yang persis seperti yang gue cari. Yang gue mau. Yang gue butuh.  Bagian terbaiknya: dia memberikan timbal balik dalam porsi setimbang dengan apa yang gue berikan.  Bagian terburuknya: kami tidak bisa bersama.  Gue memanggilnya Ling. Namanya terlalu panjang, ribet, susah, sampai pada akhirnya, gue memutuskan untuk mengambil sebagian kecil namanya sebagai sapaan. Kami bertemu dalam sebuah kegiatan, saat gue menjadi peserta dan dia panitianya.  Ling berperawakan tinggi besar dengan mata cokelat tajam yang selalu berbinar. Senyumnya selalu mengembang, bahkan ketika dia lelah atau pura-pura marah. Suaranya lembut, dalam k...