Langsung ke konten utama

We Need To Talk

Kamu marah-marah waktu aku bilang kita butuh bicara, nanti, ketika kamu kembali ke kota, karena, waktu aku bilang demikian, kamu sedang di bandara, menanti boarding pesawatmu dalam beberapa jam ke depan, untuk pulang ke rumah.

"Kenapa nggak nanti aja bilangnya, pas aku udah di kota lagi?"

"Just a friendly reminder." Kataku. Iya, aku memang bingung mesti bilang apa, karena, sejujurnya, begitu kamu dalam perjalanan pulang, we need to talk ini baru terpikir. 

Tapi setelah aku pikir ulang, mungkin sebaiknya memang nggak usah diobrolin. Nggak penting buatmu juga.

Walaupun, ya, sejujurnya ini penting buatku.

I'm not good at expressing myself. Kamu mungkin akan bingung begitu kubilang begini, karena, mungkin sepanjang hidup kita yang bersinggungan ini, kerjaku ngoceh, ngeluh, dan ngomel terus. But, seriously, I'm not good at expressing myself. At all. Socially awkward. Especially when it comes to expressing my feeling. Makanya aku bingung harus bilang apa. Bingung mau nulis apa, begitu kamu bilang "ya udah ketik aja di sini."

Plus, kamu mah males baca. Kirim chat panjang dikit langsung minta telepon.

Sebetulnya, all I wanna say is, thank you, and sorry.

Selama kenal dan bersama kamu, aku merasa aman. Aku pernah bilang kan, kalau aku punya trust issue yang cukup parah, karena banyak hal buruk yang pernah aku alami sepanjang aku hidup. Tapi dengan kamu, aku merasa...aman. Aku merasa semua hal akan baik-baik saja kalau ada kamu, dan buatku pribadi, orang-orang yang bisa memberikan perasaan seperti itu seumur hidup bisa dihitung jari. 

Mungkin kamu bakal ngatain aku lebay dan sejenisnya, berdalih bahwa kamu biasa ajaThat's what I'm talking about. Kamu orang baik, maka tetaplah seperti itu.

Efek samping dari perasaan aman dan nyaman bersamamu adalah, aku jadi banyak ngerepotin, banyak minta tolong, banyak nyusahin, dan apa-apa maunya sama kamu, karena aku cuma percaya kamu, dan aku merasa hanya kamu yang bisa. Maka aku minta maaf, kalau selama ini sering banget aku tiba-tiba cerita hal random, ngeluh receh, dan melakukan hal-hal nggak penting lainnya, karena... aku cuma bisa percaya sama kamu

Sorry fot bothering you. 

Semua kebaikan kamu itu membuat aku merasa...disayangi, dan ketahuilah, aku senang sekali. Aku lupa kapan terakhir kali aku sesenang ini. Normalnya, dengan tekanan kerja seperti ini, plus masalah-masalah pribadi yang bermunculan, aku bisa bolak-balik masuk rumah sakit, tapi tahun ini, rekor, aku sehat walafiat banget. Itu tandanya aku bahagia. Jadi, terima kasih, ya, it means so much to me

Dan, aku tahu aku bukan siapa-siapa, tapi, I'm proud of you, young man. Please, no more insecurities.

Love,

yang suka kamu katain mamak-mamak bawel

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dimensi Waktu

Rasanya, alam punya cara kerja sendiri yang tidak bisa kita rekayasa. Dalam kehidupan gue, keanehan dan kesulitan hidup selalu muncul dari perkara percintaan. Mari kita masuk ke dalam satu kisah gue yang teranyar. Tentang cerita naksir-naksiran yang berujung tidak indah. Tentang bagaimana, setelah belasan tahun, gue menemukan sesuatu yang persis seperti yang gue cari. Yang gue mau. Yang gue butuh.  Bagian terbaiknya: dia memberikan timbal balik dalam porsi setimbang dengan apa yang gue berikan.  Bagian terburuknya: kami tidak bisa bersama.  Gue memanggilnya Ling. Namanya terlalu panjang, ribet, susah, sampai pada akhirnya, gue memutuskan untuk mengambil sebagian kecil namanya sebagai sapaan. Kami bertemu dalam sebuah kegiatan, saat gue menjadi peserta dan dia panitianya.  Ling berperawakan tinggi besar dengan mata cokelat tajam yang selalu berbinar. Senyumnya selalu mengembang, bahkan ketika dia lelah atau pura-pura marah. Suaranya lembut, dalam k...

Sebuah Pesan Singkat

"SELAMAT HARI MINGGUUUUU" Sebaris  chat  masuk ke  handphone  gue, ditambah dengan emoji ketawa sok manis, di sabtu pagi yang cerah. "Apaan, ini masih sabtu, Mas ." Gue protes. " Apa bedanya toh? Sama aja kan? " Di sela-sela santai pagi dan keterbatasan gerak akibat cedera punggung, gue berusaha menahan rasa tak karuan dalam hati. Senang, iya, marah, iya, bersalah, iya. Campur aduk jadi satu. Terakhir kali ia mengontak, sebulan yang lalu, saat gue sedang ada kerjaan di luar kota. Dia memang bilang saat gue kembali ke Bandung nanti, dia akan  mengganggu  lagi, karena ada keperluan. Lama tak ada kabarnya, gue pikir semuanya selesai. Ada kelegaan tidak harus berurusan dengan orang yang sebaiknya tidak dikontak, walaupun gue  sangat ingin . Makanya, ketika tiba-tiba muncul namanya di HP, rasanya kepengen pingsan. Setelah obrolan nggak jelas tentang hari sabtu dan hari minggu,  chat  kami berhenti. Nggak jelas banget maunya apa. Cuma...

The End of Our Story?

  "Sorry, I came too late." Tidak pernah ada kata terlambat buat gue. Pun dalam hubungan ini.  Banyak sekali pertimbangan ketika gue bilang kalau, gue tidak akan mengizinkan lo masuk ketika lo belum benar-benar sembuh dari luka yang lama.  You'll end up hurting me. Hurting yourself. Hurting us. " Aku ini apa buatmu?" Everything I could wish for. A whole package.  A home. But it would be difficult to share your home with somebody else.  "I always be the one who love  too much,  then  left alone ." " Maaf ." "Buat apa?" " Karena terlambat." All was game and fun, on and off, until in one point, both of us were trapped inside the... genuine feeling . " Jangan pergi... apa kita masih bisa temenan?" "Yeah, sure." Gue mengangguk, perih. "But I need time to heal. To recover." Then he starts to cry.  "Did I hurt you?" I'm completly silent I can't even handle the question. It hurts. So...