Langsung ke konten utama

The One That Got Away

In virtually any context, someone you meet and share a significant encounter with who holds qualities akin to "the one" but for circumstance sake you are separated from; always after the fact. - Urban Dictionary

I really not in the mood to do anything today. I blame the hormones for the unwanted mood. But actually it was always you.

Kadang gue bertanya-tanya, dalam hati, dalam doa, dalam keramaian, dalam perbincangan, sampai kapan ini berlanjut? Kapan ini selesai? Setiap gue bilang sudahlah, sudahi, setelahnya, malah berlanjut. 

Sampai kapan? Sampai tidak tahu kapan.

Sudah berapa lama ini? 10 tahun? Hampir? Lebih? Masih begini saja? 

Kadang gue suka mikir, mungkin semua hubungan yang gue jalani tidak pernah berhasil karena gue tidak pernah bisa benar-benar keluar dari apa yang pernah terjadi bertahun-tahun yang lalu. Tapi di sisi lain, gue juga berpikir bahwa hubungan yang gagal memicu gue tidak bisa keluar dari memori bertahun yang lalu. Kemudian hal-hal tersebut berputar menjadi lingkaran setan, menghadirkan pertanyaan yang sesungguhnya nggak perlu dimunculkan kembali.

Bagaimana kalau waktu itu........................


Mungkin kita terlalu terlambat untuk menyadari hal baik yang kita miliki ketika itu, dan mungkin gue terlalu bego buat bertindak.

Gue harus bisa menghilangkan semua what if(s) yang berseliweran di kepala dan menerima fakta, bahwa, saat ini, sudah waktunya gue hidup bahagia dengan apa yang gue miliki sekarang.

Seperti yang lo lakukan.

PS : I should change all of my password, including the one that contain numbers, because probably those things still related to you.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dimensi Waktu

Rasanya, alam punya cara kerja sendiri yang tidak bisa kita rekayasa. Dalam kehidupan gue, keanehan dan kesulitan hidup selalu muncul dari perkara percintaan. Mari kita masuk ke dalam satu kisah gue yang teranyar. Tentang cerita naksir-naksiran yang berujung tidak indah. Tentang bagaimana, setelah belasan tahun, gue menemukan sesuatu yang persis seperti yang gue cari. Yang gue mau. Yang gue butuh.  Bagian terbaiknya: dia memberikan timbal balik dalam porsi setimbang dengan apa yang gue berikan.  Bagian terburuknya: kami tidak bisa bersama.  Gue memanggilnya Ling. Namanya terlalu panjang, ribet, susah, sampai pada akhirnya, gue memutuskan untuk mengambil sebagian kecil namanya sebagai sapaan. Kami bertemu dalam sebuah kegiatan, saat gue menjadi peserta dan dia panitianya.  Ling berperawakan tinggi besar dengan mata cokelat tajam yang selalu berbinar. Senyumnya selalu mengembang, bahkan ketika dia lelah atau pura-pura marah. Suaranya lembut, dalam k...

Sebuah Pesan Singkat

"SELAMAT HARI MINGGUUUUU" Sebaris  chat  masuk ke  handphone  gue, ditambah dengan emoji ketawa sok manis, di sabtu pagi yang cerah. "Apaan, ini masih sabtu, Mas ." Gue protes. " Apa bedanya toh? Sama aja kan? " Di sela-sela santai pagi dan keterbatasan gerak akibat cedera punggung, gue berusaha menahan rasa tak karuan dalam hati. Senang, iya, marah, iya, bersalah, iya. Campur aduk jadi satu. Terakhir kali ia mengontak, sebulan yang lalu, saat gue sedang ada kerjaan di luar kota. Dia memang bilang saat gue kembali ke Bandung nanti, dia akan  mengganggu  lagi, karena ada keperluan. Lama tak ada kabarnya, gue pikir semuanya selesai. Ada kelegaan tidak harus berurusan dengan orang yang sebaiknya tidak dikontak, walaupun gue  sangat ingin . Makanya, ketika tiba-tiba muncul namanya di HP, rasanya kepengen pingsan. Setelah obrolan nggak jelas tentang hari sabtu dan hari minggu,  chat  kami berhenti. Nggak jelas banget maunya apa. Cuma...

The End of Our Story?

  "Sorry, I came too late." Tidak pernah ada kata terlambat buat gue. Pun dalam hubungan ini.  Banyak sekali pertimbangan ketika gue bilang kalau, gue tidak akan mengizinkan lo masuk ketika lo belum benar-benar sembuh dari luka yang lama.  You'll end up hurting me. Hurting yourself. Hurting us. " Aku ini apa buatmu?" Everything I could wish for. A whole package.  A home. But it would be difficult to share your home with somebody else.  "I always be the one who love  too much,  then  left alone ." " Maaf ." "Buat apa?" " Karena terlambat." All was game and fun, on and off, until in one point, both of us were trapped inside the... genuine feeling . " Jangan pergi... apa kita masih bisa temenan?" "Yeah, sure." Gue mengangguk, perih. "But I need time to heal. To recover." Then he starts to cry.  "Did I hurt you?" I'm completly silent I can't even handle the question. It hurts. So...