Setelah mengalami ke-patahhati-an yang
cukup parah, saya berpikir untuk membenahi diri.
Dimulai dari mencari kegiatan-kegiatan
baru. Menyibukkan diri dengan kerjaan. Nonton series. Baca buku. Jalan-jalan ke
tempat baru. Semua terasa menyenangkan, sampai tiba saatnya ada orang baru yang
mencoba masuk.
Sebenernya ini bukan orang baru. Orang lama.
Sebenernya, dia udah mencoba masuk dari dulu, mungkin sudah hampir setahun.
Tapi selalu gagal. Banyak cara dicoba. Mulai dari yang nggak keliatan sampai
yang mencolok banget.
Dulu, saya selalu dengan santainya bilang
"yakali."
Sekarang, jadi "ya, kali..."
Waktu cuma kenal-kenal ayam, saya males
banget ngeladeninnya. Anaknya suka tempel sana-sini. Semua orang dia modusin.
Anaknya ya emang supel aja sih. Tapi supel sama genit bedanya kayak jembatan
sirotol mustakim. Tipis bener. Nah, begitulah posisi anak ini.
Tapi, semakin hari saya kenal dia, semakin
saya paham jalan pikirannya, semakin saya tahu kalau dia anak yang tekun,
berprinsip, dan tahu apa yang dia mau.
Seperti lagu lama dari kaset butut yang
pitanya udah rusak, kejadian selanjutnya bisa ditebak. Saya, yang lemah sama
tipe-tipe begitu, mulai luluh. Saya tidak bilang saya jatuh hati. Saya kagum.
Untuk anak seumur ini, dia berani ambil risiko.
Lalu pelan-pelan, tanpa saya sadari, saya
mulai ketergantungan.
Komentar
Posting Komentar
silakan tinggalkan identitas (nama, website, id blog) saat memberikan komentar. terimakasih.