Langsung ke konten utama

Clingy


Setelah mengalami ke-patahhati-an yang cukup parah, saya berpikir untuk membenahi diri. 

Dimulai dari mencari kegiatan-kegiatan baru. Menyibukkan diri dengan kerjaan. Nonton series. Baca buku. Jalan-jalan ke tempat baru. Semua terasa menyenangkan, sampai tiba saatnya ada orang baru yang mencoba masuk.

Sebenernya ini bukan orang baru. Orang lama. Sebenernya, dia udah mencoba masuk dari dulu, mungkin sudah hampir setahun. Tapi selalu gagal. Banyak cara dicoba. Mulai dari yang nggak keliatan sampai yang mencolok banget. 

Dulu, saya selalu dengan santainya bilang "yakali."

Sekarang, jadi "ya, kali..."

Waktu cuma kenal-kenal ayam, saya males banget ngeladeninnya. Anaknya suka tempel sana-sini. Semua orang dia modusin. Anaknya ya emang supel aja sih. Tapi supel sama genit bedanya kayak jembatan sirotol mustakim. Tipis bener. Nah, begitulah posisi anak ini.

Tapi, semakin hari saya kenal dia, semakin saya paham jalan pikirannya, semakin saya tahu kalau dia anak yang tekun, berprinsip, dan tahu apa yang dia mau.

Seperti lagu lama dari kaset butut yang pitanya udah rusak, kejadian selanjutnya bisa ditebak. Saya, yang lemah sama tipe-tipe begitu, mulai luluh. Saya tidak bilang saya jatuh hati. Saya kagum. Untuk anak seumur ini, dia berani ambil risiko. 

Lalu pelan-pelan, tanpa saya sadari, saya mulai ketergantungan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ada yang perlu aku sampaikan...

       Sayang, Waktu kamu tanya kenapa aku nggak pernah bilang sayang, aku kesel. Aku kesel karena, selama setahun lebih kita kenal ini, kamu nggak pernah mau denger apa yang aku bilang soal menjalin hubungan. Waktu pertama kita ketemu, kita masih sama-sama luka. Kamu baru habis nggak jadi nikah. Aku belum beres masalah sama orang.  Kamu tahu kenapa aku keukeuh minta kamu  jangan mulai dulu kalau perkara yang lama belum selesai ? Karena kalau dari pertama aku sudah bilang aku sayang, semuanya akan sangat, sangat, sangat berantakan dan menimbulkan luka baru . --------------------------- Sayang, Selama kita bareng setahun lebih ini, kamu inget nggak berapa kali kamu pacaran? Berapa orang yang kamu deketin? Berapa banyak dari orang-orang itu yang kamu ceritain ke aku? "Oh si A seperti ini, aku suka. Si B seperti ini, aku suka, si C seperti ini aku suka. Jadi aku dekati mereka semua, aku menjadi flamboyan, karena yang aku cari terpencar di mereka semua." Tiap k...

The End of Our Story?

  "Sorry, I came too late." Tidak pernah ada kata terlambat buat gue. Pun dalam hubungan ini.  Banyak sekali pertimbangan ketika gue bilang kalau, gue tidak akan mengizinkan lo masuk ketika lo belum benar-benar sembuh dari luka yang lama.  You'll end up hurting me. Hurting yourself. Hurting us. " Aku ini apa buatmu?" Everything I could wish for. A whole package.  A home. But it would be difficult to share your home with somebody else.  "I always be the one who love  too much,  then  left alone ." " Maaf ." "Buat apa?" " Karena terlambat." All was game and fun, on and off, until in one point, both of us were trapped inside the... genuine feeling . " Jangan pergi... apa kita masih bisa temenan?" "Yeah, sure." Gue mengangguk, perih. "But I need time to heal. To recover." Then he starts to cry.  "Did I hurt you?" I'm completly silent I can't even handle the question. It hurts. So...

Dimensi Waktu

Rasanya, alam punya cara kerja sendiri yang tidak bisa kita rekayasa. Dalam kehidupan gue, keanehan dan kesulitan hidup selalu muncul dari perkara percintaan. Mari kita masuk ke dalam satu kisah gue yang teranyar. Tentang cerita naksir-naksiran yang berujung tidak indah. Tentang bagaimana, setelah belasan tahun, gue menemukan sesuatu yang persis seperti yang gue cari. Yang gue mau. Yang gue butuh.  Bagian terbaiknya: dia memberikan timbal balik dalam porsi setimbang dengan apa yang gue berikan.  Bagian terburuknya: kami tidak bisa bersama.  Gue memanggilnya Ling. Namanya terlalu panjang, ribet, susah, sampai pada akhirnya, gue memutuskan untuk mengambil sebagian kecil namanya sebagai sapaan. Kami bertemu dalam sebuah kegiatan, saat gue menjadi peserta dan dia panitianya.  Ling berperawakan tinggi besar dengan mata cokelat tajam yang selalu berbinar. Senyumnya selalu mengembang, bahkan ketika dia lelah atau pura-pura marah. Suaranya lembut, dalam k...