Langsung ke konten utama

Sedikit Rasa Rindu

"Lagi di kampus?"

Selalu itu yang kamu tanyakan. Mahasiswi tingkat akhir dengan tugas akhir yang tidak kunjung berakhir seperti saya akan menjawab,

"Ya, kenapa? Kamu di Bandung?"

Hanya ada satu alasan di dunia ini kamu mengirim pesan seperti itu. Kamu sedang ada di kota. Bukan di tengah hutan tanpa sinyal, dengan kepungan asap yang membuat kamu harus tidur dengan masker. Bukan di antah-berantah jauh dari peradaban, empat jam lamanya naik bis mempertaruhkan nyawa untuk sampai ke pusat kota. Kalau kamu sedang di pengasingan, cuma gambar gajah lewat depan rumah yang akan kamu kirim. Atau video kebakaran hutan yang santer diberitakan di televisi. Atau cerita betapa kesalnya kamu karena lapangan berhenti berproduksi, dan kamu, sebagai tukang sumur -begitu katamu- cuma diam di dalam kantor. Melamun. Tak bisa bekerja. Tak juga bisa pulang.

"Iya nih. Nanti makan yuk."

Ajakan makan sederhana yang bisa membuat saya tersenyum sepanjang hari, bahkan sepanjang minggu. Janji apapun akan saya nomorduakan, hanya demi kamu. Kadang, kuliah pun dilewatkan. Makan, ngobrol, kemudian jalan-jalan tanpa arah tujuan. Dari setiap hari bertemu dan ngobrol lewat telpon berjam-jam, jadi sulit bertemu, dan hanya bisa ngobrol sebentar. 

Ada sedikit rasa rindu ketika kamu merantau, dan saya masih terjebak tingkat akhir di kampus, dengan SKS minim dan kesibukan yang berkurang drastis. Saat bertemu adalah saat yang paling ditunggu, walaupun tidak ada kepastian kapan kamu akan pulang dan kapan kita akan bertemu. 

Bukan, saya tidak merindukan kamu yang selalu memperlakukan saya seperti ratu ; menjemput, mengajak makan, membayar semua pengeluaran (kecuali biaya parkir. kamu tidak pernah punya uang kecil, dan uang cash) lalu mengantarkan pulang. Saya merindukan bertemu dan ngobrol banyak hal dengan kamu.

Delapan tahun, dan banyak perubahan dalam hidup kita. Dari komunikasi selancar jalan tol, mendadak macet. Dari kegiatan yang nyaris sama, menjadi bertolak belakang. Kepribadian kamu dari yang dulu emosional dan genit, dengan ego setinggi langit, merasa paling jagoan, yang sembrono, yang jahil, menjadi kamu yang tetap usil namun pengertian. Kamu tetaplah kamu yang bersedia menampung tawa dan air mata, meminjamkan pundak, dan menenangkan hati. Kamu berubah ke arah yang lebih baik. Tapi satu yang pasti. Buat saya, kamu tetaplah sama seperti yang dulu. Kamu yang sekarang, yang delapan tahun lalu mencium pipi saya, masih tetap kamu yang mencintai sepenuh hati.

Yang tetap selalu membuat rindu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dimensi Waktu

Rasanya, alam punya cara kerja sendiri yang tidak bisa kita rekayasa. Dalam kehidupan gue, keanehan dan kesulitan hidup selalu muncul dari perkara percintaan. Mari kita masuk ke dalam satu kisah gue yang teranyar. Tentang cerita naksir-naksiran yang berujung tidak indah. Tentang bagaimana, setelah belasan tahun, gue menemukan sesuatu yang persis seperti yang gue cari. Yang gue mau. Yang gue butuh.  Bagian terbaiknya: dia memberikan timbal balik dalam porsi setimbang dengan apa yang gue berikan.  Bagian terburuknya: kami tidak bisa bersama.  Gue memanggilnya Ling. Namanya terlalu panjang, ribet, susah, sampai pada akhirnya, gue memutuskan untuk mengambil sebagian kecil namanya sebagai sapaan. Kami bertemu dalam sebuah kegiatan, saat gue menjadi peserta dan dia panitianya.  Ling berperawakan tinggi besar dengan mata cokelat tajam yang selalu berbinar. Senyumnya selalu mengembang, bahkan ketika dia lelah atau pura-pura marah. Suaranya lembut, dalam k...

Sebuah Pesan Singkat

"SELAMAT HARI MINGGUUUUU" Sebaris  chat  masuk ke  handphone  gue, ditambah dengan emoji ketawa sok manis, di sabtu pagi yang cerah. "Apaan, ini masih sabtu, Mas ." Gue protes. " Apa bedanya toh? Sama aja kan? " Di sela-sela santai pagi dan keterbatasan gerak akibat cedera punggung, gue berusaha menahan rasa tak karuan dalam hati. Senang, iya, marah, iya, bersalah, iya. Campur aduk jadi satu. Terakhir kali ia mengontak, sebulan yang lalu, saat gue sedang ada kerjaan di luar kota. Dia memang bilang saat gue kembali ke Bandung nanti, dia akan  mengganggu  lagi, karena ada keperluan. Lama tak ada kabarnya, gue pikir semuanya selesai. Ada kelegaan tidak harus berurusan dengan orang yang sebaiknya tidak dikontak, walaupun gue  sangat ingin . Makanya, ketika tiba-tiba muncul namanya di HP, rasanya kepengen pingsan. Setelah obrolan nggak jelas tentang hari sabtu dan hari minggu,  chat  kami berhenti. Nggak jelas banget maunya apa. Cuma...

The End of Our Story?

  "Sorry, I came too late." Tidak pernah ada kata terlambat buat gue. Pun dalam hubungan ini.  Banyak sekali pertimbangan ketika gue bilang kalau, gue tidak akan mengizinkan lo masuk ketika lo belum benar-benar sembuh dari luka yang lama.  You'll end up hurting me. Hurting yourself. Hurting us. " Aku ini apa buatmu?" Everything I could wish for. A whole package.  A home. But it would be difficult to share your home with somebody else.  "I always be the one who love  too much,  then  left alone ." " Maaf ." "Buat apa?" " Karena terlambat." All was game and fun, on and off, until in one point, both of us were trapped inside the... genuine feeling . " Jangan pergi... apa kita masih bisa temenan?" "Yeah, sure." Gue mengangguk, perih. "But I need time to heal. To recover." Then he starts to cry.  "Did I hurt you?" I'm completly silent I can't even handle the question. It hurts. So...